Category Kesehatan

Waspada, Inilah Penyakit Tetanus Neonatorum pada Bayi

Pernahkah Anda mendengar istilah tetanus neonatorum? Kondisi ini merupakan suatu penyakit yang terjadi pada bayi baru lahir. Biasanya, penyakit ini berisiko terjadi di daerah terpencil atau pedesaaan akibat peralatan persalinan tidak steril. Untuk itu, pencegahan terhadap penyakit ini lebih diharapkan dibandingkan pengobatan atau penanganan karena tingkat kematian bayi bisa lebih tinggi setelah mengidap penyakit ini.

Penyebab Tetanus Neonatorum

Dilansir dari alodokter.com, tetanus neonatorum adalah suatu gangguan kesehatan serius pada bayi yang sangat disayangkan apabila terjadi. Hal ini mengingat penyebabnya yang seharusnya dapat dihindari untuk mencegah dialaminya penyakit ini. Penyebab utama penyakit ini adalah bakteri Clostridium tetani yaitu bakteri penghasil racun neurotoxin yang menyerang sistem saraf pusat. Bakteri ini umumnya ditemukan pada debu, di tanah, dan kotoran hewan. Bakteri ini dapat berpindah ke tubuh lewat luka goresan, sobekan, ataupun luka tusukan, yang semuanya disebabkan oleh benda yang terkontaminasi.

Jika kasus tetanus neonatorum adalah terjadi pada bayi lahir, maka bakteri tersebut masuk ke tubuh bayi lewat praktik persalinan yang tidak higienis, seperti halnya memotong tali pusar dengan alat-alat yang tidak steril. Risiko bayi menderita tetanus neonatorum ini bisa meningkat jika ibunya tidak terlindungi oleh vaksin TT (tetanus toxoid) di masa kehamilan. Risiko ini meningkat bukan hanya pada bayi, namun sekaligus juga pada ibu.

Selain risiko tersebut, faktor risiko lain penyebab tetanus neonatorum adalah proses persalinan di rumah dengan alat tidak steril ataupun adanya riwayat dari anak sebelumnya. Faktor lain yang juga perlu dihindari adalah adanya paparan bahan yang potensial menularkan bakteri tetani di lokasi atau pada alat yang digunakan dalam persalinan atau yang digunakan untuk merawat tali pusat, seperti tanah atau lumpur.

Gejala yang Ditimbulkan

Setelah mengerti bakteri penyebab hingga cara penularannya ke bayi yang baru lahir, kemungkinan mengalami tetanus ini bisa diketahui lewat gejala yang ditimbulkan. Beberapa gejala akan muncul ketika tubuh bayi yang baru lahir terinfeksi bakteri penyebab tetanus.

Gejala tetanus neonatorum yang dimaksud adalah mengencangnya rahang serta otot wajah bayi di hari ke-2 sampai ke-3 pasca kelahiran, mulut bayi yang kaku seakan terkunci dan tidak bisa minum ASI, spasme atau kaku otot tubuh yang menyeluruh dan membuat bayi tegang atau melengkung ke belakang, dan bayi mengalami kejang saat ada suara, cahaya, atau saat disentuh.

Apabila kondisi tersebut sudah terlanjur dan tidak segera ditangani, lama kelamaan bayi tidak lagi dapat bernapas dan terjadi kematian bayi. Sebagian besar kasus kematian bayi karena tetanus neonatorum terjadi di antara hari ke 3-28 setelah kelahiran. Meskipun saat ini jumlah kasusnya sudah menurun, namun hal ini tetap menjadi perhatian para dokter dan bidan dalam menangani bayi yang baru lahir.

Pencegahan Dini Tetanus Neonatorum

Setelah mengetahui penyebab dan gejalanya yang sangat mengkhawatirkan tersebut, mulailah untuk menyadari adanya ancaman penyakit ini. Lakukan upaya pencegahan sebelum terlambat agar bayi yang lahir tetap sehat.

Tindakan pencegahan tetanus neonatorum yang umum dilakukan adalah vaksinasi TT untuk ibu hamil yang mampu memproteksi tubuh dari bakteri penyebab penyakit tetanus. Dosis pertama akan diberikan saat trimester ketiga kehamilan. Dosis kedua diberikan setidaknya empat minggu setelah pemberian dosis pertama. World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia juga merekomendasikan pemberian vaksin ketiga yang dilakukan enam bulan setelah pemberian dosis kedua yang tujuannya memberikan perlindungan setidaknya selama lima tahun.

Selain melalui vaksinasi, pencegahan juga harus dilakukan lewat prosedur persalinan yang benar dengan peralatan medis yang steril di rumah sakit. Sebab, sebagian besar kasus kematian bayi karena tetanus disebabkan karena proses persalinan di rumah tanpa peralatan steril yang memadai dan lingkungan yang tidak bersih.

Pencegahan tetanus neonatorum berikutnya adalah penempatan bidan desa di wilayah kerja Puskesmas untuk menjaga serta meningkatkan status kesehatan masyarakat, khususnya ibu hamil. Bidan yang bersertifikasi dan berpengalaman ini mampu membantu proses persalinan yang sesuai prosedur dengan peralatan yang steril, sehingga mampu meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

 

Sumber artikel:

www.alodokter.com

www.ayahbunda.co.id

 

Sumber gambar:

www.alodokter.com

http://medikanews.com/

Read More